Langkah progresif kembali ditunjukkan oleh Sekolah Tinggi Pertanian Flores Bajawa (STIPER Flores Bajawa). Perguruan tinggi ini tidak hanya mencetak lulusan di bidang pertanian dan peternakan, tetapi juga secara aktif membuka jalan bagi alumni untuk bekerja di Jepang.
Program ini merupakan tindak lanjut MoU antara STIPER Flores Bajawa dan Lembaga Duta Mandiri dalam menyiapkan tenaga kerja profesional yang siap bersaing di level internasional. Jepang menjadi salah satu negara tujuan karena kebutuhan tenaga kerja di sektor pertanian dan peternakan terus meningkat.
Ketua STIPER Flores Bajawa, Dr. Nicolus Noywuli, dalam pertemuan bersama alumni di Kampus C Turekisa menegaskan bahwa sosialisasi peluang kerja luar negeri merupakan bagian dari tanggung jawab perguruan tinggi.
Menurutnya, keberangkatan ke Jepang tidak dilakukan secara instan. Para alumni harus melewati tahapan persiapan matang, mulai dari kesiapan mental, administrasi, hingga penguasaan bahasa Jepang.
Selama 4–6 bulan, peserta akan mengikuti pelatihan bahasa Jepang secara gratis di BLUT yang difasilitasi oleh Duta Mandiri. Setelah itu, mereka akan menjalani seleksi. Alumni yang dinilai cepat memahami materi dan memenuhi standar kompetensi akan diberangkatkan lebih awal.
“Yang utama adalah kesiapan berbahasa Jepang. Setelah lolos seleksi, mereka siap berangkat,” tegasnya.
Ketua LPMmai STIPER Flores Bajawa, Dr. Rofinus Neto Wuli, menyebut program ini sebagai bukti kepedulian kampus terhadap masa depan mahasiswa.
Menurutnya, kampus tidak boleh berhenti pada seremoni wisuda. Perguruan tinggi harus memastikan lulusan benar-benar terserap di dunia kerja.
“Ini kesempatan luar biasa. Kampus hadir bukan hanya melahirkan sarjana, tetapi memastikan mereka diterima dengan baik di dunia kerja,” ujarnya.
Beberapa syarat utama yang harus dipenuhi calon tenaga kerja antara lain: Sarjana atau alumni STIPER Flores Bajawa, Bersedia mengikuti pelatihan bahasa Jepang, Lulus seleksi kompetensi, Memiliki disiplin, daya saing, dan etos kerja tinggi.
Bidang pekerjaan yang ditawarkan di Jepang meliputi sektor pertanian dan peternakan, dua bidang yang selaras dengan kompetensi lulusan STIPER.
Sejumlah alumni menyambut positif peluang ini. Indri, menyampaikan rasa terima kasih atas informasi kesempatan kerja luar negeri yang dibuka kampus.
Sementara Elisabet Nai menilai peluang ini sangat menjanjikan, terutama karena sesuai dengan bidang keilmuan mereka. Sementara Anjeli Noi dan Fransiska So’o berharap dapat segera berangkat dan memperoleh pengalaman kerja internasional.
Program ini menjadi sinyal bahwa kampus-kampus di daerah juga mampu menembus jaringan kerja global. Dari Bajawa, Kabupaten Ngada, STIPER membuktikan bahwa lulusan daerah pun dapat berkompetisi di pasar kerja internasional.
Lebih dari sekadar peluang kerja, program ini membuka ruang transfer pengetahuan, budaya kerja disiplin ala Jepang, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia daerah.
Langkah ini bukan hanya tentang bekerja di luar negeri, tetapi tentang membangun mentalitas global, bahwa anak-anak Ngada mampu berdiri sejajar di panggung dunia. (Cha)






